Mengenal Situs Chandi Wurung
Yoni Plandi
Sebagai bagian dari masyarakat lokal yang hidup dan tinggal di Desa Plandi, ini adalah suatu kesenangan. Sudah menjadi hal yang lumrah jika masyarakat dusun tersebut sangat penasaran dengan sesuatu yang masih langka namun luar biasa, penemuan sisa-sisa situs purbakala ini menarik perhatian masyarakat dusun Plandi. Diketahui, sejak zaman dahulu orang menyebut Candi Wurung, bentuk batunya persegi dan bagian atasnya berlubang di tengah yang oleh para arkeolog umumnya disebut Yoni.
Selama 10 tahun terakhir, penelitian observasi dengan menggali beberapa situs peninggalan purbakala telah dilakukan di kawasan sekitar Candi Borobudur. Pada akhir tahun 2017 Balai Konservasi Borobudur telah selesai melakukan penelitian terhadap situs purbakala di kabupaten Magelang, hasilnya ditemukan 12 situs peninggalan purbakala yang tersebar di wilayah sekitarnya, dan salah satunya adalah situs purbakala chandi Wurung atau disebut Yoni Plandi. Warga menyebut lokasi ini dengan nama Chandi Wurung yang berada di tengah sawah. Situs peninggalan purbakala memang sangat menarik, namun masih jarang diketahui. Sangat menarik untuk diceritakan lebih detail tentang keberadaan situs ini.
Situs Chandi Wurung
Situs Chandi Wurung terletak di dusun Plandi, 2 km dari kota Mungkid (ibu kota kabupaten Magelang), kurang lebih 5 km dari candi Borobudur. Dikelilingi oleh beberapa dusun yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pembuat bata merah. Keberadaan candi Wurung terletak di Dusun Plandi, Desa Pasuruhan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.
Dalam Bahasa Indonesia, bangunan keagamaan purbakala disebut candi, istilah candi juga digunakan secara luas untuk merujuk kepada semua bangunan purbakala yang berasal dari masa Hindu - Buddha di Nusantara, misalnya gerbang, gapura, dan petirtaan (kolam dan pancuran atau pemandian).
Pada abad ke-7 sampai dengan awal abad ke-8, kerajaan Hindu di Jawa Tengah yang pada akhir paruh pertama abad ke-8, diperkirakan tahun 732 M, Raja Sanjaya dari kerajaan Mataram, selama masa pemerintahannya yang diperintah oleh keturunan Sanjaya (Wangsa Sanjaya), diperkirakan telah dibangun candi-candi Syiwa.
Selain digambarkan dalam berbagai wujud antropomorfik, Siwa juga digambarkan dalam wujud an-iconic sebagai lingga. Pada dasarnya lingga adalah pilar cahaya, yang merupakan simbol benih dari segala sesuatu yang ada di alam semesta ini berasal. Lingga semacam ini disebut Joytirlinga. Siwa sendiri merepresentasikan dirinya ke dalam wujud pilar api pada mitologi Linggotbhawa murti. Selain Joytirlinga, terdapat juga manusa lingga, yaitu lingga yang merupakan simbol dari organ maskulin. Cirinya adalah mempunyai tiga bagian, terdiri atas bagian yang paling bawah, berbentuk persegi, disebut brahmabhaga; bagian tengah yang berbentuk segi enam yang disebut wisnubhaga; dan bagian yang paling atas, berbentuk silendris, disebut rudrabhaga. Pada bagian rudrabghaga-nya terdapat hiasan garis melengkung yang disebut brahmasutra.
Arsitektur
Nama Candi Wurung sudah ada sejak dahulu, dimungkinkan sudah ada sejak jaman pemerintahan wangsa Sanjaya yang memerintah di Jawa dan telah menganut agama Hindu. Melihat bentuk arsitektur chandi Wurung bisa diambil kesimpulan bahwa situs ini merupakan bangunan Hindu. Dalam istilah bahasa Jawa, ‘wurung ’ artinya tidak jadi atau selesai.
Chandi Wurung lebih banyak diartikan yaitu bangunan candi untuk tempat pemujaan yang tidak diselesaikan atau bisa diartikan bangunan yang ditinggalkan karena suatu hal tertentu, seperti karena adanya perang, bencana alam dan juga sebab yang lain. Situs ini merupakan bongkahan besar batu berukir yaitu sebuah Yoni (alas tempat dimana sebuah arca atau patung diletakan) yang berukuran cukup besar dan disekitarnya batu bata merah sebagai alas pondasi candi.
Chandi Wurung dusun Plandi menghadap ke Timur, dibangun menggunakan bahan batu andesit. Bangunan candi ini terletak berada di tengah sawah. Di sekitar situs terdapat batu bata merah yang cukup besar, yang fungsinya belum banyak diketahui. Situs tersebut berupa gundukan tanah atau bukit kecil, ditengah gundukan tanah tersebut terdapat bongkahan batu besar atau Yoni di atasnya. Balai Studi Konservasi Borobudur melakukan observasi penggalian pada tanah bukit dan ditemukan bangunan berupa susunan batu bata merah yang menyerupai pondasi situs.
Sebagai simbol organ maskulin, lingga mengandung energi penciptaan. Akan tetapi energi tersebut akan berfungsi apabila disatukan dengan energi shakti, yang disimbolkan dalam wujud yoni, untuk memberikan kekuatan bagi energi penciptaan tersebut. Dengan demikian penyatuan antara lingga sebagai organ maskulin dengan yang merupakan simbol organ feminin akan menghasilkan energi penciptaan, yang merupakan dasar dari semua penciptaan. Penggambaran lingga-yoni sebagai simbol Siwa dan sakti-nya banyak dijumpai di garbhagreha candi untuk pemujaan Siwa, menggantikan kehadiran Siwa itu sendiri.
Di India, terdapat tradisi pemujaan lingga sebagai aspek Siwa. Dalam kedudukan seperti ini, lingga biasanya diberi hiasan muka Siwa. Lingga semacam ini disebut mukha lingga. Jumlah muka yang digambarkan bervariasi, ada yang satu, empat, dan lima. Apabila hanya terdapat satu hiasan muka, disebut eka mukha lingga. Catur mukha lingga serta panca mukha lingga adalah sebutan untuk lingga yang mempunyai hiasan muka empat dan lima.
Periode Jawa Tengah Kuna tidak mempunyai tradisi penggambar lingga seperti ini. Lingga sering juga ditemukan tidak berpasangan dengan yoni, akan tetapi berdasarkan ciri - cirinya yang memiliki unsur - unsur brahmabhaga, wisnubhaga, dan rudrabhaga maka lingga tersebut merupakan bagian dari lingga-yoni. Di sisi yang lain, terdapat juga lingga yang berdiri sendiri, tetapi memiliki ciri berbeda dengan manusa lingga. Lingga yang dimaksud adalah pseudo lingga atau lingga semu, yang cirinya tidak memiliki bagian segi enam. Lingga semu hanya memiliki bagian silendris dan persegi saja, fungsinya adalah sebagai patok atau batas, misalnya batas halaman candi atau batas wilayah yang ditetapkan sebagai sima. Oleh karena itu, lingga semacam itu pun disebut lingga patok. Berbeda dengan lingga, yoni seringkali ditemukan tanpa lingga. Terdapat tradisi penggunaan yoni tidak bersama dengan lingga. Dalam hal ini, yoni tetap mempunyai peran sebagai simbol organ feminin yang menjadi simbol kesuburan. Sebagai simbol kesuburan, penggunaan yang paling banyak adalah yang dikaitkan dengan kesuburan lahan, sehingga sebaran yoni periode Jawa Tangah Kuna ini banyak ditemukan di wilayah - wilayah yang subur sebagai lahan pertanian, misalnya wilayah Kedu, Klaten, dan Sleman. Bentuk yoni kategori ini bervariasi, mulai dari bentuk yoni yang sudah dikenal, yaitu seperti lumpang yang bercerat, hingga bentuk yoni yang dijajarkan dua atau tiga. Bentuk yoni yang berjajar dua atau tiga, antara lain ditemukan di wilayah Kedu.
Yoni dalam bahasa mitologi Hindu merupakan lambang kesuburan yaitu perwujudan dari Dewi Parwati istri Siwa. Yoni ini adalah tumpuan atau landasan tempat arca atau lingga yang merupakan perwujudan dari Siwa. Bersatunya yoni dan lingga merupakan pertemuan purusa dan pradhana yang merupakan symbol kesuburan sehingga muncul kehidupan baru. Sehingga Yoni dan lingga sering ditempatkan pada wilayah pertanian atau pemujaan para petani masa itu.
Yoni di dusun Plandi berupa Bongkahan batu menghadap ke Timur berada ditengah bangunan candi, lokasi tersebut atau disekitarnya merupakan area pertanian. Sehingga dimungkinkan keberadaan yoni tersebut berfungsi sebagai pemujaan para petani masa itu. Keberadaan Yoni di wilayah ini menjadi penting mengingat belum ditemukan yoni lainnya. Selain itu juga dapat menjadi petunjuk adanya pendukung agama Hindu di wilayah tersebut. Selain situs tersebut, ditemukan prasasti saat menggali tanah untuk produksi batu bata.
Berdasarkan hasil dari pengumpulan data, maka dapat disimpulkan bahwa : Yoni di situs Plandi tidak diketahui dengan pasti sejarah situs ini, diceritakan bahwa usia situs ini mungkin lebih tua dari Candi Borobudur. Dari peninggalan berupa Yoni sudah jelas bahwa situs ini adalah peninggalan Hindhu. Pada dasarnya bangunan situs ini adalah media pemujaan kesuburan untuk pertanian. Keberadaan yoni di lokasi ini menjadi penting sebagai petunjuk adanya pendukung budaya hindu pada masa lalu. Lokasi yang disebut sebagai Chandi Wurung adalah fenomena yang menarik.
| Prasasti Situs Plandi sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Candi Borobudur sebagai situs cagar budaya merupakan situs peninggalan purbakala, bangunan abad ke-8 yang disebutkan dalam dua buah prasasti, yaitu prasasti Karangtengah dan Sri Kahulunan. Dalam penelitian dan ekskavasi yang dilakukan beberapa tahun terakhir dalam kawasan sekitar candi Borobudur, menyebutkan hasil penemuan beberapa situs-situs cagar budaya. Penelitian dan penggalian situs yang dilakukan oleh Balai Konservasi Borobudur menjelaskan terdapat beberapa situs cagar budaya yang masuk dalam situs cagar budaya nasional, dalam kawasan cagar budaya Borobudur. Situs-situs cagar budaya peringkat nasional yang dikelola oleh Balai Konservasi Borobudur diantaranya meliputi 1. Candi Borobudur, 2. Candi Mendut, 3. Candi Pawon, 4. Candi Ngawen, 5. Situs Samberan, 6. Situs Brongsongan, 7. Situs Plandi, 8. Situs Bowongan, 9. Situs Dipan, 10. Kerkhoff Mendut. Situs cagar budaya yang ditemukan dalam peta kawasan candi Borobudur, dengan penemuan situs purbakala dan prasasti serta beberapa temuan-temuan purbakala yang lain. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia. Menjelajahi dan mendapatkan bacaan yang lebih mudah dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA. Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur - wisata dengan Pamong Carita. Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR. arisguide Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya. |



Comments
Post a Comment