Dinding Relif Borobudur
Seni Ukir Borobudur
Berada di Borobudur
Selamat datang di Borobudur atau namanya disebut-sebut Barabudur, candi suci umat Buddha. Menyebutkan nama candi Borobudur, berasal dari dua kata yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat pemujaan bagi umat Buddha atau kuil, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Maka makna kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena pergeseran bunyi menjadi Borobudur, yang artinya candi atau biara di atas bukit.
Borobudur adalah merupakan Candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras berbentuk lingkaran, dan serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep Buddha untuk mencapai Nirvana.
Relief
Memperhatikan keindahan seni ukir pada dinding-dinding Borobudur di setiap tingkatan, kecuali pada teras-teras lingkaran Arupadhatu dipahatkan panel-panel relief yang dibuat dengan sangat teliti dan halus. Seni ukiran pada relief dan pola hiasan Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan mempunyai selera estetik yang sangat halus. Relief-relief ini begitu sangat indah, bahkan telah dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia agama Buddha.
Relief cerita adalah salah satu transfer dari naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni yang nyata dan konkrit. Karena hal ini dimaksudkan untuk tujuan sebagai penggambaran dari suatu cerita, maka di dalam relief terdapat susunan suatu bentuk-bentuk tertentu oleh seorang seniman sehingga dapat mencerminkan suatu keindahan dan nilai seni dalam keadaan dan peristiwa yang terjadi di dalam cerita tersebut. Oleh karena itu di dalam bentuk relief, penggambaran suatu bentuk tubuh, orang dan tokoh - tokoh yang disebutkan dalam suatu cerita serta bentuk-bentuk bangunan tertentu seperti rumah dan istana, bentuk-bentuk pohon dan sungai, adalah merupakan sebagai petunjuk gambaran tentang situasi dan keadaan tempat dimana terjadinya suatu peristiwa tersebut adalah yang diharapkan.
Chandi Borobudur mempunyai pahatan relief yang diukir sedemikian rupa sehingga memperlihatkan berbagai tingkat bentuk pahatan relief yang indah di dinding, arsitektur ukiran yang mengagumkan dan menunjukkan berbagai ragam relief-relief mulai dari yang banyak dihiasi dengan relief dasar hingga relief polos yang terdapat di teras-teras melingkar Arupādhātu.
Chandi Borobudur sangat kaya akan ukiran yang indah dan elegan, dan berisi kurang lebih 2.670 relief individu yang terbagi dalam 1.460 panel relief narasi dan 1.212 panel relief dekorasi, yang menutupi dan diukir pada dinding dan pagar langkan. Seluruhnya berada diukir pada enam teras bujur sangkar yang dipahat di dinding dan pagar langkan, dan tersebar berada dilantai dasar kaki tersembunyi Kāmadhātu, dan terdapat pada lima teras persegi Rupādhātu.
Menjelajahi relief-relief yang dipahat pada dinding Borobudur, bagi para arkeolog menjelaskan bahwa telah menemukan berbagai macam-macam warna yaitu pigmen warna biru, merah, hijau dan hitam. Warna pigmen yang lain juga ditemukan dalam beberapa bentuk seperti potongan-potongan kertas emas, sehingga menyimpulkan bahwa warna pigmen yang ada di bangunan itu adalah massa abu-abu tua dari bahan batu vulkanik, akibat kurang warna sehingga mungkin pernah dilapisi dengan plester putih yang disebut varjalepa dan kemudian dicat dengan memakai warna-warna cerah, hal ini mungkin berfungsi sebagai mercusuar ajaran Buddha. Penggunaan yang sama plaster vajralepa ini, dapat ditemukan di candi Sari, Kalasan, dan Sewu. Kemungkinan besar pada pembuatan relief dasar Borobudur, pada awalnya cukup penuh dengan warna, sebelum curah hujan tropis yang deras selama berabad-abad, air telah menghilangkan pigmen warnanya.
Relief Borobudur juga menerapkan disiplin seni rupa India, seperti berbagai sikap tubuh yang memiliki makna atau nilai estetis tertentu. Relief-relief berwujud manusia mulia seperti pertapa, raja dan wanita bangsawan, bidadari ataupun makhluk yang mencapai derajat kesucian laksana dewa, seperti tara dan boddhisatwa, seringkali digambarkan dengan posisi tubuh tribhanga. Posisi tubuh ini disebut "lekuk tiga" yaitu melekuk atau sedikit condong pada bagian leher, pinggul, dan pergelangan kaki dengan beban tubuh hanya bertumpu pada satu kaki, sementara kaki yang lainnya dilekuk beristirahat. Posisi tubuh yang luwes ini menyiratkan keanggunan, misalnya figur bidadari Surasundari yang berdiri dengan sikap tubuh tribhanga sambil menggenggam teratai bertangkai panjang.
Borobudur menampilkan banyak gambar; seperti sosok manusia baik bangsawan, rakyat jelata, atau pertapa, aneka tumbuhan dan hewan, serta menampilkan bentuk bangunan vernakular tradisional Nusantara. Borobudur tak ubahnya bagaikan kitab yang merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa kuno. Banyak arkeolog meneliti kehidupan masa lampau di Jawa kuno dan Nusantara abad ke-8 dan ke-9 dengan mencermati dan merujuk ukiran relief Borobudur. Bentuk rumah panggung, lumbung, istana dan candi, bentuk perhiasan, busana serta persenjataan, aneka tumbuhan dan margasatwa, serta alat transportasi, dicermati oleh para peneliti.
Salah satunya adalah relief terkenal yang menggambarkan Kapal Borobudur. Kapal kayu bercadik khas Nusantara ini menunjukkan bahwa kebudayaan bahari purbakala yang dibuat berdasarkan relief Borobudur dengan nama kapal Samudra Raksa.
Relief-relief ini senantiasa dibaca sesuai dengan arah jarum jam atau disebut 'mapradaksina' dalam bahasa Jawa Kuna, dan dalam bahasa Sanskerta disebut 'daksina' yang artinya ialah timur. Hal ini sesuai dengan cara ritual pradaksina yang dilakukan oleh para peziarah yang berjalan dan bergerak searah jarum jam dengan menjaga tempat suci di sebelah kanannya. Relief relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jataka. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.
Rangkuman berikut menunjukkan bagaimana berbagai rangkaian relief disusun.
Dinding kaki tersembunyi berisi narasi dari Teks Karmavibhangga berjumlah 160 panel.
Galeri Pertama
Dinding utama bagian atas: Teks Lalitavistara sejumlah 120 panel. Bagian bawah: Teks Jataka/Avadana berjumlah 120 panel. Dinding langkan bagian atas: Teks Jataka/Avadana berjumlah 372 panel. Bagian bawah: Teks Jataka/Avadana berjumlah 128 panel.
Galeri Kedua
Dinding Utama: Teks Gandavyuha berjumlah 128 panel. Langkan: Teks Jataka/Avadana berjumlah 100 panel.
Galeri Ketiga
Dinding Utama: Teks Gandavyuha berjumlah 88 panel. Langkan : Teks Gandavyuha berjumlah 88 panel.
Galeri Keempat
Dinding Utama: Teks Gandavyuha berjumlah 84 panel. Langkan: Teks Gandavyuha berjumlah 72 panel.
Jumlah total: 1.460 panel.
Kaki Tersembunyi Karmavibhangga
Relief pada dinding 'kaki tersembunyi' dikhususkan untuk hukum karma. Sebanyak 160 panel tidak menceritakan kisah yang berkesinambungan, akan tetapi masing-masing memberikan satu ilustrasi lengkap tentang sebab dan akibat.
Relief cerita yang terdapat dalam teks Karmavibhangga pada dinding kaki tersembunyi berjumlah 160 panel. Sebanyak 117 panel pertama berisi tentang hal-hal yang menunjukkan berbagai tindakan yang menghasilkan satu makna arti yang sama, sedangkan sebanyak 43 panel lainnya mempunyai makna arti menunjukkan banyak hasil yang dapat mengikuti dari satu jenis tindakan.
Menyalahkan aktivitas yang layak, dari gosip hingga pembunuhan, dengan hukuman api penyucian yang sesuai, dan aktivitas yang layak dipuji, seperti amal dan ziarah ke tempat suci, dan imbalan selanjutnya, keduanya ditampilkan. Penderitaan neraka dan kenikmatan surga, dan pemandangan kehidupan sehari-hari terwakili dalam panorama penuh samsara, siklus kelahiran dan kematian tanpa akhir, rantai dari semua bentuk keberadaan delusi yang berasal dari agama Buddha untuk melepaskannya.
Pada bagian dasar pembungkus Borobudur telah dibongkar untuk mengungkap kaki yang tersembunyi, dan semua reliefnya difoto dan didokumentasikan oleh seorang fotografer yang bernama Casijan Chepas pada tahun 1890. Pada saat pemugaran, penutup kaki candi dipasang kembali menutupi relief Karmawibhangga. Saat ini, hanya sudut tenggara dari kaki tersembunyi yang dibuka untuk pengunjung.
Salah satu ukiran relif Karmawibhangga sudut tenggara. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. |
Dinding Utama: Lalitavistara
Serial ini tidak menyediakan biografi lengkap Sang Buddha. Ini dimulai dengan turunnya Sang Buddha dari surga Tushita, dan diakhiri dengan khotbah pertamanya di Taman Rusa dekat Benares. Menampilkan kelahiran Sang Buddha sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Ratu Maya dari Kapilavastu (sekarang Nepal), adalah relief yang berada di tangga selatan.
Lalitavistara adalah teks dasar Buddhisme Mahayana, yang judul Sutranya berarti Elaborasi Sang Buddha dan mengacu pada gagasan bahwa inkarnasi terakhir Sang Buddha adalah pertunjukan yang sengaja diberikan untuk mencerahkan umat manusia. Sebanyak 120 panel yang menggambarkan tentang kehidupan Budha dan diceritakan dalam teks Lalitavistara. Rangkaian relief-relief ini memanjang dan menutupi bagian atas dinding utama di galeri pertama, dan merupakan beberapa relief yang paling terpelihara serta dapat dilihat sampai saat ini.
Bodhisatwa di surga Tusita. Salah satu relif Lalitavistara Chandi Borobudur pada galeri lorong pertama. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. |
Langkan: jataka dan avadana
Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum ia dilahirkan sebagai Pangeran Siddhartha. Mereka memiliki tema utama perbuatan baik yang membedakan Bodhisattva dari makhluk lainnya. Akumulasi moralitas adalah ciri dari tahap persiapan menuju pencapaian Kebuddhaan. Ratusan kali Bodhisattva lahir dan terlahir kembali, baik sebagai hewan maupun dalam wujud manusia.
Jataka dan avadana diperlakukan dalam satu rangkaian yang sama tanpa perbedaan yang nyata pada relief Candi Borobudur. Tidak ada sistem pergantian tertentu yang terbukti. Deretan relief di dinding galeri pertama sebagian besar menggambarkan avadana. Beberapa jataka dimasukkan melalui variasi. Sistem di baris atas rangkaian pagar langkan sangat berbeda. Reliefnya hampir semua jataka, dengan hanya beberapa avadana.
Sebanyak 20 panel pertama di seri bawah pada dinding galeri pertama menggambarkan tentang perjalanan seorang pemuda yang bernama Sudhanakumaravadana, yaitu kisah cerita Perbuatan Suci Pangeran Sudhanakumara, yang berasal dari Divyavadana. Kisah cerita yang dimulai dengan persaingan diantara dua kerajaan, yaitu kerajaan Panchala Utara yang makmur, dan kerajaan Panchala Selatan yang dilanda kemiskinan.
![]() |
Relif jataka dinding Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. |
Dinding Utama: Gandavyuha
Gandavyuha adalah kisah yang diceritakan dalam bab terakhir Sutra Avatamsaka tentang pengembaraan Sudhana yang tak kenal lelah untuk mencari Kebijaksanaan Sempurna Tertinggi. Ini mencakup dua galeri (ketiga dan keempat) dan juga setengah dari galeri kedua, yang terdiri dari total 460 panel.
![]() |
| Salah satu Relif Gandawyuha dinding Borobudur. Samadhi Buddha di Taman Jeta di Sravasti. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. |
Tokoh utamanya, pemuda Sudhana, putra saudagar yang sangat kaya, muncul di panel ke-16. 15 panel sebelumnya membentuk prolog kisah keajaiban selama samadhi Buddha di Taman Jeta di Sravasti. Selama pencariannya, Sudhana mengunjungi tidak kurang dari tiga puluh guru bertemu dengan biksu Megasri, di mana dia diberikan doktrin pertama. Saat perjalanannya berlanjut, Sudhana bertemu dengan Supratisthita, tabib Megha (Roh Pengetahuan), bankir Muktaka, biksu Saradhvaja, upasika Asa (Roh Pencerahan Tertinggi), Bhismottaranirghosa, Brahmana Jayosmayatna, Putri Maitrayani, biksu Sudarsana, seorang anak laki-laki bernama Indriyesvara, upasika Prabhuta, bankir Ratnachuda, Raja Anala, dewa Siva Mahadeva, Ratu Maya, Bodhisattva Maitreya dan kemudian kembali ke Manjusri. Setiap pertemuan telah memberi Sudhana ajaran, pengetahuan, dan kebijaksanaan tertentu. Pertemuan-pertemuan ini ditampilkan di galeri ketiga.
Lima belas relief sebelumnya membentuk keajaiban yang dihasilkan oleh Buddha samadhi (meditasi terdalam) pada pertemuan seratus siswa di Taman Jeta di Sravasti. Setibanya di tempat suci Vichitrasaladhvaya, orang-orang di kota bergegas keluar dalam jumlah besar untuk mendengar Bodhisattva menjelaskan perbuatan luar biasa yang dilakukan oleh Sang Buddha. Setelah pertemuan singkat dengan Manjusri, Sudhana melanjutkan perjalanan ke kediaman Bodhisattva Samantabhadra (galeri keempat Chandi Borobudur).
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Chandi Borobudur, is one of the sacred buildings of Buddhists, built in the 9th century during the reign of the Syailendra dynasty. Mahayana Buddhist temple, consisting of nine stacked terraces, topped by a central dome, surrounded by 2,672 relief panels and 504 Buddha statues, as a place of meditation for Buddhists in achieving the highest wisdom of Nirvana.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur - wisata dengan Pamong Carita.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.





Comments
Post a Comment