Arsitektur Chandi Borobudur


Selamat datang, sangat senang dengan perjalanan yang akan mengunjungi kemegahan dan keindahan Borobudur, sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Bangunan ini merupakan bagian dari salah satu situs warisan dunia sejak tahun 1991. Keramahan pemandu wisata, pada kesempatan ini akan menyampaikan narasi dan penjelasannya sebagai apresiasi untuk mempelajari dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur.

Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki nilai luhur dan sejarah bagi bangsa Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata super prioritas. Pembukaan kembali bangunan ini untuk pariwisata merupakan kesempatan yang menyenangkan dalam wisata tematik Borobudur.

Wisata dan kunjungan saat ini dengan tujuan mengenal Candi Borobudur lebih dekat dalam belajar sejarah dan mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, sebagai apresiasi dalam belajar dan ikut serta dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia Borobudur yang ada di Indonesia.

Chandi Borobudur adalah merupakan mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, sebagai contoh puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa.

Arsitektur Borobudur

Gunadharma adalah cerita atau legenda tentang perbukitan Menoreh. Namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda Jawa. Gunadharma dengan cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh yang bentuknya menyerupai tubuh orang berbaring. Dongeng lokal ini menceritakan bahwa Gunadharma berubah menjadi jajaran perbukitan Menoreh.

Kemiripan dengan profil seperti gambar seorang pria berbaring di punggung bukit, bentuk hidung, bibir, dan dagu yang digambarkan dengan sangat jelas. Pemandangan ini menjadi satu legenda, menurut tradisi setempat, cerita tentang perbukitan Menoreh yang menggambarkan tubuh seorang arsitek Borobudur, bernama Gunadharma dan menurut cerita diyakini melindungi ciptaannya selama berabad-abad.

Legenda Gunadharma, cerita rakyat tentang perbukitan Menoreh yang menyerupai tubuh orang berbaring, menceritakan Gunadharma berubah menjadi perbukitan Menoreh. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur - arisguide. Foto screenshot arisguide.

Menurut para arkeolog perancangan Borobudur menggunakan satuan ukur yang disebut tala, yaitu panjang wajah manusia antara ujung garis rambut di dahi hingga ujung dagu, atau jarak jengkal antara ujung ibu jari dengan ujung jari kelingking ketika telapak tangan dikembangkan sepenuhnya. Satuan ukur ini bersifat relatif dan mempunyai sedikit perbedaan antar individu, akan tetapi satuan ini tetap pada Borobudur.

Dalam penelitian pada tahun 1977, menjelaskan tentang adanya rasio perbandingan 4:6:9 yang ditemukan di Borobudur. Arsitek menggunakan formula ini untuk menentukan dimensi yang tepat dari suatu fraktal geometri perulangan swa-serupa dalam rancangan Borobudur. Rasio matematis ini juga ditemukan dalam rancang bangun Candi Mendut dan Pawon di dekatnya. Arkeolog percaya bahwa konsep bangunan candi Borobudur dirancang memiliki fungsi dan tujuan, fungsi dan makna dalam penanggalan, astronomi, yang terkait dengan kosmologi Buddha. Konsep ini sama dengan konsep pembangunan Candi Angkor Wat di Kamboja.

Deretan stupa-stupa teras Arupadhatu. 
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Desain Struktur

Borobudur merupakan mahakarya seni Buddha Indonesia, sebagai puncak pencapaian keindahan dalam teknik arsitektur dan estetika seni Buddha di Jawa. Terinspirasi oleh ide-ide dharma dari India yaitu stupa dan mandala, bahwa diyakini sebagai kelanjutan dari elemen lokal, bentuk struktur megalitik punden berundak atau piramida bertingkat yang ditemukan pada masa prasejarah Indonesia. Perpaduan antara pemujaan leluhur asli Indonesia dan pencapaian untuk menuju Nirwana dalam ajaran Buddha.

Borobudur adalah sebuah stupa yang dilihat dari atas membentuk pola Mandala besar. Mandala adalah pola yang tersusun atas bujur sangkar dan lingkaran konsentris yang melambangkan kosmos atau alam semesta yang lazim ditemukan dalam Buddha aliran Wajrayana – Mahayana.

Struktur Candi Borobudur dibagi dalam tiga bagian sesuai dengan tingkatan (datu), menurut Stutterheim. Struktur candi 10 tingkatan sesuai dengan naskah dasabhumi-sutra untuk mencapai kebudhaan harus melalui 10 tingkatan, menurut pendapat de casparis. Sebagai mandala, yang nyata (garbhadatu) dan yang ideal (vajradhatu), menurut Marsis Sutopo, 2011.

Mandala Borobudur
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Sepuluh pelataran yang terdapat di Borobudur menggambarkan filsafat mazhab Mahayana secara bersamaan menggambarkan tentang kosmologi, yaitu konsep alam semesta, dan sekaligus tingkatan alam pikiran dalam ajaran Buddha. Bagaikan suatu kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan tertinggi menjadi Buddha.

Para peziarah masuk melalui sisi timur untuk mulai ritual, kemudian berjalan searah jarum jam, naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan sejumlah 1.460 panel relief yang terukir indah pada dinding dan pagar langkan.

Ketiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha adalah:
Kamadhatu
Bagian kaki atau dasar melambangkan dunia yang masih dikuasai oleh kama atau nafsu rendah. Bagian ini sebagian besar tidak dapat dilihat dan tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi.

Pada bagian kaki asli terdapat 160 panel relief cerita diambil dari teks Karmawibhangga yang pada saat ini tersembunyi. Sebagian kecil struktur tambahan yang ada di sudut tenggara dibuka sehingga dapat dilihat beberapa relief pada bagian ini. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini kurang lebih memiliki volume 13.000 meter kubik.

Kaki candi Kamadhatu.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Rupadhatu
Empat undak teras yang membentuk lorong keliling yang pada dindingnya dihiasi oleh galeri relief dinamakan Rupadhatu, dengan denah lantai yang berbentuk persegi. Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan jumlah 1.300 gambar relief. Panjang relief mencapai seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif.

Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk atau relung dinding di atas pagar langkan atau selasar. Aslinya terdapat 432 arca Buddha di dalam relung-relung terbuka di sepanjang sisi luar di pagar langkan.

Pada pagar langkan terdapat sedikit perbedaan rancangan yang mempunyai melambangkan peralihan dari ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu yaitu pagar langkan paling rendah dimahkotai oleh ratna, sedangkan pada empat tingkat pagar langkan diatasnya dimahkotai oleh stupika (stupa kecil). Bagian teras-teras bujur sangkar ini sangat kaya akan hiasan dan ukiran relief yang indah.

Dinding lorong relif Rupadhatu.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Arupadhatu
Berbeda dengan lorong-lorong yang terdapat pada tingkat Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai lantai kelima hingga ketujuh pada dindingnya tidak mempunyai relief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud, dengan denah lantainya tidak bujur sangkar, tetapi berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah terbebas dari segala keinginan dan ikatan semua bentuk dan serta rupa, namun belum dapat mencapai nirwana.

Pada bagian pelataran yang berbentuk lingkaran terdapat 72 stupa kecil berterawang atau berlubang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran dengan masing-masing berjumlah 32, 24, dan 16 sehingga jumlah total 72 stupa. Melihat dua teras terbawah bentuk stupanya lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, dan pada satu teras teratas bentuk stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya berbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha berada ditempatkan di dalam stupa yang ditutup, dan berlubang-lubang seperti dalam kurungan.

Teras - teras stupa Borobudur.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Tingkatan tertinggi menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan dalam bentuk stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa ini digambarkan polos dan tanpa lubang-lubang. Didalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga dengan Buddha yang tidak rampung, yang disalahsangkakan sebagai patung Adi Buddha. Padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung di dalam stupa utama, dan patung yang tidak selesai itu adalah merupakan kesalahan dari pemahatnya pada zaman dahulu.

Menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya sebenarnya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman bangunan ini menemukan banyak patung seperti ini. Stupa utama yang telah dibiarkan kosong diduga mempunyai arti dan makna kebijaksanaan yang tertinggi, yaitu kasunyatan, kesunyian dan ketiadaan yang sempurna di mana jiwa manusia sudah tidak terikat hasrat, keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran samsara.

Stupa teras Arupadhatu.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, bangunan ini tidak dibangun di atas permukaan tanah datar, tetapi di atas bukit alami. Teknik pembangunannya sebenarnya serupa dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Dilorong-lorong inilah umat Buddha melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan.

Borobudur pada awalnya berfungsi sebagai stupa, bangunan suci untuk memuliakan Buddha yang dibangun sebagai lambang penghormatan dan untuk pemuliaan kepada Buddha. Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras yang bertingkat-tingkat adalah perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia.

Arsitektur candi Borobudur merupakan sebuah bentuk mahakarya estetika dalam agama Buddha di Indonesia, sebagai lambang puncak pencapaian keselarasan antara teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa. Sebagai Penanda arsitektur candi Borobudur.

Rancang Bangun

Para ahli arkeologi menduga bahwa rancangan awal Borobudur adalah stupa tunggal yang sangat besar memahkotai puncaknya. Diduga massa stupa raksasa yang luar biasa besar dan berat ini membahayakan tubuh dan kaki candi. Motif Kala-Makara lazim ditemui dalam arsitektur pintu candi di Jawa. Pintu utama terletak di sisi timur, sekaligus titik awal untuk membaca kisah relief. Tangga ini lurus terus tersambung dengan tangga pada lereng bukit yang menghubungkan candi dengan dataran di sekitarnya. Arsitek perancang Borobudur memutuskan untuk membongkar stupa raksasa ini dan diganti menjadi tiga barisan stupa kecil dan satu stupa induk seperti sekarang.

Para ahli menjelaskan secara umum perkiraan tahapan dalam rancangan pembangunan Candi Borobudur:
Tahap pertama
Menyebutkan waktu atau masa dalam pembangunan Borobudur tidak banyak diketahui secara pasti, kurang lebih diperkirakan sekitar kurun waktu antara tahun 750 M dan 850 M.

Tahap pertama
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Borobudur dibangun di atas bukit alami, bagian atas bukit diratakan dan bagian pelataran datar diperluas. Mengamati material Borobudur, lebih pada tidak seluruhnya terbuat dari batu andesit, bagian bukit tanah dipadatkan dan ditutup dengan struktur batu sehingga menyerupai cangkang yang membungkus bukit tanah. Sisa bagian bukit ditutup struktur batu lapis demi lapis. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Dibangun tiga undakan pertama yang menutup struktur asli piramida berundak.

Borobudur merupakan mahakarya seni rupa Buddha Indonesia, sebagai contoh puncak pencapaian keselarasan teknik arsitektur dan estetika seni rupa Buddha di Jawa. Diilhami gagasan dharma dari India adalah stupa dan mandala, yang dipercaya merupakan kelanjutan unsur lokal yaitu struktur megalitik punden berundak atau piramida bertingkat yang ditemukan dalam periode prasejarah Indonesia. Perpaduan antara pemujaan leluhur asli Indonesia dan perjuangan untuk mencapai Nirwana dalam ajaran agama Buddha.

Borobudur adalah sebuah stupa yang dilihat dari atas membentuk pola Mandala besar. Mandala adalah pola yang tersusun atas bujur sangkar dan lingkaran konsentris yang melambangkan kosmos atau alam semesta yang lazim ditemukan dalam Buddha aliran Wajrayana – Mahayana.

Tahap kedua
Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undak melingkar yang diatasnya langsung dibangun stupa tunggal yang sangat besar.

Tahap kedua
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Tahap ketiga
Terjadi perubahan rancang bangun, undak atas lingkaran dengan stupa tunggal induk besar dibongkar dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa yang lebih kecil dibangun berbaris melingkar pada pelataran undak-undak ini dengan satu stupa induk yang besar di tengahnya. Karena alasan tertentu pondasi diperlebar, dibangun kaki tambahan yang membungkus kaki asli sekaligus menutup relief Karmawibhangga.

Tahap ketiga
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Para arkeolog menduga bahwa Borobudur semula dirancang berupa stupa tunggal yang sangat besar memahkotai batur-batur teras bujur sangkar. Akan tetapi stupa besar ini terlalu berat sehingga mendorong struktur bangunan condong bergeser keluar. Perlu diingat bahwa inti Borobudur hanyalah bukit tanah sehingga tekanan pada bagian atas akan disebarkan ke sisi luar bagian bawahnya sehingga Borobudur terancam longsor dan runtuh. Karena itulah diputuskan untuk membongkar stupa induk tunggal yang besar dan menggantikannya dengan teras-teras melingkar yang dihiasi deretan stupa kecil berterawang dan hanya satu stupa induk.

Untuk menopang agar dinding candi tidak longsor maka ditambahkan struktur kaki tambahan yang membungkus kaki asli. Struktur ini adalah penguat dan berfungsi bagaikan ikat pinggang yang mengikat agar tubuh candi tidak ambrol dan runtuh keluar, sekaligus menyembunyikan relief Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu.

Tahap keempat
Ada perubahan kecil seperti penyempurnaan relief, penambahan pagar langkan terluar, perubahan tangga dan pelengkung atas gawang pintu, serta pelebaran ujung kaki.

Tahap keempat
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Pada tahun 1885, ditemukan bagian struktur yang tersembunyi di dasar atau kaki Borobudur. Bagian dasar atau kaki tersembunyi ini terdapat relief yang berjumlah 160 panil relief dan di antaranya adalah berkisah tentang Karmawibhangga. Pada relief panel ini terdapat ukiran aksara atau tulisan yang merupakan petunjuk bagi pengukir untuk membuat adegan dalam gambar relief. Kaki asli ini tertutup oleh penambahan struktur batu yang membentuk pelataran yang cukup luas, fungsi sesungguhnya masih menjadi misteri. Awalnya diduga penambahan kaki ini untuk mencegah kelongsoran bangunan ini. Teori lain mengajukan bahwa penambahan kaki ini disebabkan kesalahan perancangan kaki asli, dan tidak sesuai dengan Wastu Sastra, kitab India mengenai arsitektur dan tata kota. Alasan penambahan dan pembuatan kaki tambahan, dilakukan secara teliti dengan mempertimbangkan alasan keagamaan, estetik, dan teknis.

Struktur Bangunan

Chandi Borobudur dibangun di atas bukit alami yang panjang, dan bagian punggungnya diratakan dan berubah menjadi dataran tinggi. Bagian utama pada dataran tinggi membentuk situs monumen dan menyisakan tembok di puncak bukit yang masih utuh. Dataran yang padat di perbukitan sebelah barat laut menyediakan tempat untuk suatu bangunan biara.

Pada dataran tinggi sekitar 15 m dan bagian ini lebih tinggi dari dataran di sekitarnya, dengan bagian puncak bukit yang menjulang sekitar 19 m di atas dataran tinggi tersebut. Di sekitar dan di atas puncak bukit itulah monumen itu dibangun. Akan tetapi, diperlukan penimbunan yang cukup banyak, karena pada bagian puncak bukit tersebut tidak menyediakan cukup ruangan untuk dijadikan sebagai inti struktur.

Struktur bangunan dibagi atas tiga bagian: dasar (kaki), tubuh, dan puncak.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

Chandi Borobudur sama sekali berbeda dari desain umum bangunan semacam itu. Itu bukanlah struktur yang didirikan di atas tanah dasar yang rata dan terdapat bagian yang menyisakan ruang di dalamnya untuk konsekrasi gambar, tetapi merupakan piramida berundak, bangunan yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, dan dimahkotai oleh stupa besar berbentuk lonceng. Namun, teknik bangunannya sama dengan yang digunakan dalam konstruksi candi-candi dari batu. Bahan bangunan tidak dikumpulkan dari tambang, tetapi diambil dari sungai terdekat di sekitarnya. Batu-batu itu dibentuk dan dipotong sesuai ukuran, kemudian diangkut ke lokasi situs, dan diletakkan tanpa menggunakan semen. Batu-batu dibuat untuk dicengkeram dengan cara dipasang pada sambungan horizontal, dan tanda pada sambungan vertikal. Penggunaan kenop di satu sisi batu yang pas dengan lubang yang serasi pada sisi berikutnya juga sangat sering dilakukan. Dalam sistem penataan ini memungkinkan adanya kelenturan tertentu pada setiap bagian, sehingga bangunan ini dapat berdiri dengan gerakan ringan tanpa berada dalam bahaya keruntuhan. Setelah bangunan selesai, ukiran dan dekorasi atau gambar lainnya ditambahkan. Biasanya penambahan ukiran dimulai dari atas, tapi bisa juga ditambahkan bersama di beberapa bagian.

Struktur bangunan dapat dibagi atas tiga bagian yaitu dasar (kaki), tubuh, dan atas (puncak). Bagian dasar berukuran 123 x 123 m, dengan tinggi 4 meter. Tubuh candi terdiri atas lima batur teras bujur sangkar yang makin mengecil di atasnya. Teras pertama mundur 7 meter dari ujung dasar teras. Tiap teras berikutnya mundur 2 meter, menyisakan lorong sempit pada tiap tingkatan. Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan menopang barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris. Terdapat stupa utama yang terbesar di tengah; dengan pucuk mencapai ketinggian 35 meter dari permukaan tanah. Tinggi asli Borobudur termasuk chattra (payung susun tiga) yang kini dilepas adalah 42 meter.

Tangga candi Borobudur mendaki melalui gapura Kala Makara.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Tangga terletak pada bagian tengah keempat sisi mata angin yang membawa pengunjung menuju bagian puncak monumen melalui serangkaian gerbang pelengkung yang dijaga 32 arca singa. Gawang pintu gerbang dihiasi ukiran Kala pada puncak tengah lorong pintu dan ukiran makara yang menonjol di kedua sisinya. Motif Kala-Makara lazim ditemui dalam arsitektur pintu candi di Jawa. Pintu utama terletak di sisi timur, sekaligus titik awal untuk membaca kisah relief. Tangga ini lurus terus tersambung dengan tangga pada lereng bukit yang menghubungkan candi dengan dataran di sekitarnya.

Superstruktur merupakan bagian yang dibedakan dengan jelas dari teras. Ini terdiri dari tiga platform melingkar masuk kembali, yang masing-masing mendukung deretan stupa berlubang. Melewati deretan stupa yang tersusun dalam lingkaran konsentris, kubah pusat diatas, berada ditengah dengan ketinggian hampir 35 m di atas permukaan tanah. Akses ke puncak monumen disediakan oleh 15 tangga di tengah setiap sisi piramida. Melalui serangkaian gerbang (yang sebagian besar menghilang di setiap tingkat), sebuah tangga mengarah langsung ke platform melingkar, sekaligus memotong koridor teras persegi. Pintu masuk utama berada di sisi timur sebagai awal dari cerita relief naratif dimulai.

Tangga juga ditemukan di lereng bukit, mendaki dari dataran rendah ke dataran tinggi, dan terhubung dengan tangga monumental melalui jalan beraspal. Pintu masuk dijaga oleh arca singa, singa lain berada di berbagai tingkat piramida dengan jumlah total 32 arca singa. Pembangun Borobudur menyadari perlunya sistem drainase karena hujan lebat. Saluran air disediakan di sudut-sudut setiap tingkat bangunan yang dipasang untuk mengalirkan air hujan dari galeri. Total ada 100 saluran air yang diukir dengan hiasan berbentuk makara (gargoyle).

Arca singa penjaga gerbang.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Karena Borobudur sangat berbeda dengan candi-candi lain yang ada di Indonesia, sering dikatakan bahwa bangunannya adalah stupa dan bukan merupakan candi sama sekali. Stupa ini awalnya dimaksudkan sebagai tempat pemujaan relik Sang Buddha. Belakangan, sangat mungkin sisa-sisa orang suci Buddha terkemuka diabadikan di stupa-stupa ini. Terkadang sebuah stupa didirikan hanya sebagai simbol kepercayaan Buddha.

Chandi terutama dimaksudkan untuk menampung para dewa, tetapi relik sangat penting untuk fungsinya. Bagian tertentu dari candi disisihkan untuk kotak relik. Namun relik-relik tersebut bukanlah sisa-sisa jasad, melainkan logam, batu mulia, dan biji-bijian, yang sebenarnya dimaksudkan sebagai kenang-kenangan para dewa, yang secara simbolis melambangkan kekuasaan Sang Pencipta. Tidak ada peninggalan seperti itu. belum ditemukan di candi Borobudur, peninggalan orang suci, atau kenang-kenangan dari dewa. Jenazah tidak mungkin diabadikan di monumen. Untuk itu, jenis stupa lain akan didirikan dan, memang, stupa yang lebih kecil digali pada awal abad ini.

Stupa besar tidak hanya menjadi mahkota tetapi monumen itu sendiri, sembilan teras kemudian hanya alas bertingkat yang menopangnya. Sangat mungkin sebuah stupa didirikan di atas banyak tumpuan, tetapi tidak sedemikian rupa sehingga keseluruhannya dikecilkan dalam ukuran dan kepentingan oleh alasnya. Ini benar-benar tidak dapat disamakan dengan rasa keindahan dan kualitas karya tertinggi yang terlihat di setiap detail Chandi Borobudur. Namun, konstruksi yang melibatkan tidak kurang dari 55.000 meter kubik batuan tidak akan pernah dimulai tanpa desain yang terencana dengan baik terlebih dahulu. Dengan demikian, kesimpulan yang jelas adalah Candi Borobudur adalah candi dan bukan stupa, meskipun berbeda dengan candi lain di Indonesia. Pembagian vertikal Chandi Borobudur menjadi dasar, badan, dan bangunan atas, menjadikan stupa besar hanya bagian atas monumen, sangat cocok dengan gagasan candi sebagai representasi gunung kosmik.

Tiga bagian yang ditumpangkan mewakili tiga Lingkup Alam Semesta, yaitu: bhurloka atau Alam Fana, bhuvarloka atau Alam Bakti, dan svarloka atau Alam Ilahi. Chandi juga memiliki simbol internal dari tiga alam. Di tengah alas terdapat lubang, di bawahnya diletakkan kotak penyimpanan ritual. Kotak itu berisi cakram yang terdiri dari beberapa keping logam, batu mulia, dan berbagai biji-bijian, yang melambangkan unsur-unsur duniawi. Di atas lubang, di ruang kuil, gambar Tuhan bertahta. Di bagian atas batu padat, ruang kecil disediakan untuk lempengan lain yang mewakili unsur keagamaan.

Selama upacara ritual, dewa turun dari tempat tinggal sementaranya di ruangan kecil di atas candi ke aula kuil, dan mengisi patung dengan rohnya. Pada saat yang sama unsur-unsur duniawi dari lubang di dasar candi memberikan tubuh sementara patung itu. Lengkap dengan tubuh dan jiwa, patung itu menjadi hidup. Itu bukan lagi benda mati, tetapi Tuhan yang hidup, yang dapat menerima penghormatan dan berkomunikasi dengan imam ketua. Karena Candi Borobudur tidak memiliki ruang dalam, maka candi tersebut tidak dapat sepenuhnya berfungsi sebagai candi. Oleh karena itu dapat dianggap sebagai tempat ziarah daripada tempat ibadah, sistem tangga dan koridor yang memandu peziarah secara bertahap ke platform paling atas melalui perambulasi di sepanjang teras yang berurutan. Ajaran Buddha memberikan penekanan khusus pada tahapan persiapan mental yang harus dilalui sebelum mencapai tujuan. tujuan akhir, yaitu pembebasan definitif dari semua ikatan duniawi dan pengucilan mutlak dari kelahiran kembali.

Tiga Alam Semesta secara konsekuen ditunjuk dalam istilah yang sama. Lingkup terendah adalah kamadhatu atau Alam Keinginan. Pada tahap ini manusia terikat oleh keinginannya. Alam yang lebih tinggi adalah rupadhatu atau Alam Wujud, dimana manusia telah meninggalkan keinginannya tetapi masih melekat pada nama dan bentuk. Lingkungan tertinggi adalah Arupadhatu atau Alam Tanpa Bentuk. Di dalam lingkup ini tidak ada lagi nama atau bentuk. Manusia sama sekali dan untuk selamanya telah dibebaskan dari semua ikatan dengan dunia fenomenal.

Di Chandi Borobudur Kamadhatu diwakili oleh alas, Rupadhatu oleh lima teras persegi, dan Arupadhatu diwakili oleh tiga platform melingkar ditambah stupa besar. Rupadhatu dibedakan dari Arupadhatu tidak hanya oleh fitur arsitektural, tetapi juga oleh banyaknya dekorasi teras persegi yang kontras dengan dataran platform melingkar. Namun, tumpuan tidak memberikan bukti langsung mewakili Kamadhatu. Ini karena itu bukan penopang asli bangunan ini, melainkan sebidang tanah yang menyembunyikan fondasi sebenarnya, dan rangkaian 160 reliefnya, dari pandangan pengunjung. Dasar-dasar ini, lebih disebut 'kaki tersembunyi', ditemukan pada tahun 1885. Penemuan itu mengungkapkan, tidak hanya relief dasar, tetapi juga prasasti pendek yang terukir di banyak panel. Prasasti tersebut tampaknya merupakan instruksi kepada para pemahat, yang menunjukkan adegan yang akan diukir. Mereka diakui sebagai kata kunci dari kitab suci Buddha Mahakarmavibhangga. Teks ini membahas tentang cara kerja dari karma, yaitu hukum sebab akibat, reinkarnasi, di surga dan di neraka. Relief tersebut menggambarkan moralitas di bumi, menunjukkan bagaimana setiap pikiran, tindakan, dan perasaan menghasilkan keadaan bahagia atau kecelakaan yang mengerikan. Hukum sebab akibat pada dasarnya didasarkan pada dominasi kehendak. Oleh karena itu sebutan Kamadhatu tidak diragukan lagi tepat untuk dasar dan 'kaki tersembunyi' dari Candi Borobudur.

Pertanyaan tentu mengapa 'kaki' itu terkubur, menyembunyikan semangat dan dedikasi para seniman setia. Penggunaan 12.750 meter kubik batu untuk membuat selubung, dan pengorbanan elemen arsitektural serta relief tampaknya sangat menunjukkan bahwa kekuatan bangunan ini dipertaruhkan. Karena sebagian besar pondasi piramida berundak yang didirikan secara bertahap harus bertumpu pada tanah yang ditimbun, kemungkinan besar akan terjadi geseran, dan menjadi perlu untuk membangun dinding di dasarnya. Dengan kata lain, dinding casing adalah tanggul penahan yang dilemparkan untuk mencegah longsor lebih lanjut dan untuk menghindari bencana yang lebih buruk. Solusi teknis dari bungkus memiliki kompensasi estetika dan religius tertentu. Platform luas yang disediakan oleh dinding tambahan memperhalus garis luar. Pada saat yang sama menyediakan ruang yang cukup dan memungkinkan peziarah untuk membuat putaran awal santai dan merenung lagi sebelum memasuki Jalan sempit Buddhisme. Karena, berbeda dengan keterbukaan kehidupan duniawi dalam kamadhatu, jalan menuju keselamatan tertinggi membutuhkan penyempitan pandangan tubuh dan konsentrasi pikiran; dan galeri sempit rudhatu membantu umat beriman untuk mencapai ini dengan cara yang paling tepat. Rupadhatu sekilas membingungkan. Dindingnya penuh dengan relief, begitu pula pagar langkannya. Tak kurang dari 1.300 panel relief naratif, dengan total panjang 2.500 m, dan 1.212 relief dekoratif lainnya, mengapit koridor. Di atas relief dasar di dinding, dekorasi berukir terus menerus membentang lebih dari 1500 m, dan cornice di atasnya dihiasi dengan 1416 antefiks.

Bagian atas dinding (sesuai dengan fasad luar langkan) terdiri dari relung yang diselingi dengan relief dekoratif. Ada 432 relung di sekitar lima teras, masing-masing berisi patung Buddha duduk. Di atas relung, stupa-stupa kecil yang kokoh menjulang ke langit. Dan karena dinding di belakang ceruk adalah fasad bagian dalam langkan, deretan 1472 stupa pada gilirannya membentuk garis pagar langkan yang agak kasar. Berlimpahnya bentuk-bentuk yang membingungkan dalam rupadhatu memiliki padanannya dalam relief naratif.

Biografi Sang Buddha, dari turunnya dari surga hingga pencerahannya, digambarkan di dinding utama galeri pertama. Kisah pencarian Sudhana akan Kebijaksanaan Agung dan Kebenaran Hakiki diceritakan dalam relief dasar yang menutupi dinding galeri kedua, ketiga, dan keempat. Kegigihan para tokoh utama rupadhatu dan upaya tak kenal lelah mereka untuk mencapai tujuan akhir, meskipun mereka terlibat dengan kekayaan dan keindahan bentuk yang luar biasa, memberikan teladan bagi peziarah saat ia melakukan perjalanan melalui tahapan-tahapan yang berurutan. teras persegi rudhatu, platform melingkar yang mewakili Alam Tanpa Bentuk adalah polos: tidak ada ukiran, tidak ada ornamen, tidak ada ornamen. Satu-satunya jeda dalam kepolosan monoton ditawarkan oleh deretan stupa yang mengelilingi kubah pusat yang besar. Didukung oleh bantalan teratai, stupa disusun dalam tiga lingkaran konsentris, sesuai dengan tiga platform melingkar. Ada total 72 stupa: 32 di tingkat terendah atau pertama, 24 di kedua dan 16 di ketiga. Masing-masing dari 72 stupa memiliki semacam permukaan.

Borobudur arca dan stupa.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Sebagai Dasabodhisatwa Bhumi adalah Sepuluh pelataran Borobudur yang menggambarkan filosofi dalam aliran Mahayana sekaligus menggambarkan kosmologi, yaitu konsep alam semesta, serta tingkatan-tingkatan pikiran dalam agama Budha. Ibarat sebuah buku, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi seorang Budha. Bangunan ini memiliki sembilan teras, enam teras terbawah berbentuk bujur sangkar dan tiga teras teratas berbentuk lingkaran.

Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Dilorong-lorong inilah umat Buddha melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan.

Borobudur pada awalnya berfungsi sebagai sebuah stupa, bangunan suci untuk memuliakan Budha dibangun sebagai lambang penghormatan dan untuk pemuliaan kepada Budha. Rancangannya menunjukkan bahwa bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras yang bertingkat-tingkat adalah perkembangan dari bentuk punden berundak masa prasejarah Indonesia.

Arsitektur candi Borobudur merupakan sebuah bentuk mahakarya estetika dalam agama Budha di Indonesia, sebagai lambang puncak pencapaian keselarasan antara teknik arsitektur dan estetika seni rupa Budha di Jawa. Sebagai penanda arsitektur candi Borobudur.

Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Guiding Technique Chandi Borobudur arisguide.

Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur, membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Comments

Popular Posts