Nama Borobudur
Selamat datang di Chandi Borobudur yang merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang mempunyai nilai luhur dan sejarah bagi bangsa Indonesia, akan kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata super prioritas. Pembukaan kembali Borobudur merupakan kesempatan yang menyenangkan dalam wisata tematik di Borobudur.
Wisata dan kunjungan saat ini dengan tujuan mengenal Candi Borobudur lebih dekat dalam belajar sejarah dan mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektural, yang merupakan bentuk apresiasi dalam belajar dan ikut serta dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia Borobudur yang ada di Indonesia.
Keramahan pemandu wisata, pada kesempatan ini akan memberikan penjelasan sebagai apresiasi untuk belajar dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur. Menjelajahi tentang sejarah dan mengagumi keindahan seni arsitektur, serta keberadaan asal usul nama Chandi Borobudur.
Berada di Borobudur
Sejarah menyebutkan Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.
Chandi Borobudur
Chandi Borobudur adalah candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras berundak, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, serta terdapat stupa terbesar di tengahnya, yang dikelilingi oleh 72 stupa berlubang, serta dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha.
Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Wangsa Sailendra, candi ini dirancang dengan bentuk arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan kebudayaan pemujaan leluhur asli Indonesia dan konsep filosofi Buddha untuk mencapai Nirwana.
Nama Borobudur
Asal mula nama Borobudur tidak jelas, meskipun memang nama asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku "Sejarah Pulau Jawa" karya Sir Thomas Raffles. Raffles menulis mengenai monumen bernama borobudur, akan tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya naskah Jawa kuno yang member petunjuk mengenai adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.
Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore ( Boro ); kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa " yang berarti "purba" maka bermakna, "Boro purba".
Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.
Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur.
Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, menurut Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga sekitar tahun 824 M. Bangunan itu diselesaikan pada masa putrinya, yaitu Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan kurang lebih membutuhkan waktu setengah abad.
Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çri Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamulan yang disebut Bhūmisambhāra. Istilah Kamulan sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhumi Sambhara Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur.
nama borobudur berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur".
Kata “bara” berasal dari kata “vihara”, dalam bahasa Sanskerta berarti “candi”.
Kata “beduhur” artinya ialah "tinggi", dalam bahasa Bali yang berarti"di atas".
Catatan
Bangunan kuno yang berasal dari periode Jawa kuno dalam sejarah Indonesia, cerita biasanya disebut chandi. Pada awalnya mereka tidak hanya menyebut nama yang meliputi bangunan candi, melainkan struktur bangunan dan hal lainnya seperti bentuk gapura dan gapura serta tempat pemandian.
Dalam penjelasan kebanyakan candi di Jawa, pada dasarnya nama aslinya tidak diketahui secara luas. Umumnya sebagian besar masyarakat yang tinggal di desa terdekat tidak yakin atau bahkan tidak mengetahui keberadaan mereka sama sekali. Dari beberapa penelitian disebutkan bahwa banyak peninggalan budaya yang telah ditemukan kembali, kemungkinan bangunan suci atau candi hanya disebutkan oleh orang-orang dari desa terdekat.
Namun, beberapa dari mereka menjelaskan bahwa mereka tetap mempertahankan nama mereka, selama ini desa tersebut diberi nama setelah ditemukannya candi tersebut. Mungkin diucapkan, tetapi sulit untuk mengetahui apakah nama Chandi Borobudur diceritakan dan berasal dari desa tempat bangunan itu berada.
Dalam sejarah Jawa kuno abad ke-18, dijelaskan ada sebuah bukit bernama Borobudur. Pada saat Sir Thomas Stamford Raffles, orang yang menemukan kuil tersebut, datang ke penelitiannya. Ia menceritakan pada tahun 1814, tentang keberadaan sebuah candi atau monumen bernama Borobudur di desa Bumisegoro, oleh penduduk setempat. Borobudur, sepertinya itulah nama asli monumen tersebut. Tetapi tidak ada dokumen tertulis yang ditemukan tentang namanya.
Sebuah manuskrip Jawa kuno bertanggal 1365 M, Nagarakrtagama yang disusun oleh Mpu Prapanca, menyebutkan kata 'Budur' namanya sebagai tempat suci bagi sekte Buddha, Vajradhara. Bukan tidak mungkin nama 'Budur' dikaitkan dengan Borobudur, namun karena tidak ada informasi lebih lanjut, hingga saat ini identifikasi yang pasti sulit dilakukan. Desa terdekat selalu berbicara 'Bore', kemungkinan menjadi bagian pertama dari nama asli monumen itu.
Padahal, banyak sarjana penjelasan De Casparis belum ada lagi solusi yang dikemukakan. Moens berpendapat bahwa, dalam analogi Bharasiwa India Selatan yang menunjukkan penganut Dewa Hindu Siva, monumennya dikaitkan dengan 'Bharabuddha' atau penegak Buddha yang bersemangat. Nama 'Borobudur' kemudian akan menjadi kontraksi dengan 'Bharabuddha' dalam bahasa Tamil, kata 'ur' berarti 'kota' ditambahkan, sehingga berarti 'Kota para penegak Buddha'.
Namun demikian, kata majemuk 'Boro Budur' sulit untuk dijelaskan, namun sebaliknya sebagai makna 'Budur adalah tempat suci di desa Boro' akan berbeda penafsiran dengan aturan dalam bahasa Jawa, yang mensyaratkan bahwa kata Budur Boro bukannya Boro Budur. Raffles mendapat saran tentang kata 'Budur', mungkin sesuai dengan kata Jawa kuno 'Buda', sehingga Borobudur memiliki arti 'Boro kuno'. Dia juga memberikan hipotesa lain tentang Boro berarti 'besar', dan Budur adalah 'Buddha', itu hanya disebut 'Buddha Agung'.
Padahal, 'Boro' seharusnya berarti lebih 'terhormat', yang berasal dari kata Jawa Kuno 'Bhara', sebuah awalan hororific, jadi 'tempat suci Buddhis yang dihormati' akan lebih tepat. Kata 'Boro' mungkin juga merupakan kata Jawa Kuno 'Bhara' yang berarti 'banyak', sehingga menafsirkan 'Borobudur' sebagai tempat suci 'yang banyak Buddha' memiliki klaim yang sama.
Penafsiran yang lebih masuk akal dikemukakan oleh Poerbatjaraka. Ia mengira bahwa kata 'boro' merupakan singkatan dari kata 'vihara', yang artinya 'biara'. Borobudur kemudian berarti 'Biara Budur'. Disebutkan tentang fondasi biara yang digali kemudian selama penggalian arkeologi dilakukan di dataran tinggi sebelah barat monumen pada tahun 1952. Karena nama 'Budur' disebutkan dalam Nagarakrtagama, interpretasi yang diberikan oleh Poerbatjaraka mungkin benar. Anggapan seperti itu berarti vihara merupakan bangunan suci.
Semua penjelasan di atas didasarkan pada interpretasi kata penyusun 'Boro' dan 'Budur'. Kemudian De Casparis mencoba menelusuri kedua kata tersebut kembali ke asal mulanya. Dia menunjukkan bahwa nama 'Bhumisambharabhudhara', yang menunjukkan tempat suci untuk pemujaan leluhur, ditemukan pada dua prasasti batu yang berasal dari tahun 842 M. Dia menyimpulkan bahwa tempat suci Bhumisambhlrabhtidhara tidak lain adalah Borobudur kita, dan bahwa nama tersebut perubahan sekarang terjadi melalui penyederhanaan normal apa yang terjadi dalam bahasa lisan.
Borobudur
Borobudur terbengkalai selama kurang lebih 800 tahun dan tertimbun lapisan tanah dan abu vulkanik, sehingga saat itu Borobudur berada di dalam bukit. Alasan sebenarnya bangunan ini terlantar dan ditinggalkan masih belum diketahui secara pasti sejak kapan bangunan ini tidak lagi menjadi pusat keagamaan penganut agama Buddha.
Menurut narasi sejarah Jawa kuno, dalam kurun waktu antara tahun 928 hingga 1006, Raja Mpu Sindok telah memindahkan pusat kerajaan Medang ke wilayah Jawa Timur setelah terjadi beberapa kali letusan gunung berapi, meski demikian beberapa sumber menduga bahwa kemungkinan besar Borobudur mulai ditinggalkan pada masa ini.
Borobudur mulai disebut-sebut sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam kitabnya Nagarakretagama, yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit, yang menyebutkan adanya "Candi di Budur". Selain itu, Soekmono (1976) juga mengatakan bahwa candi ini benar-benar ditinggalkan sejak penduduk setempat masuk Islam pada abad ke-15. Candi Borobudur melalui cerita rakyat sebagai bukti kejayaan masa lalu menjadi cerita takhayul yang dikaitkan dengan kemalangan dan penderitaan.
Dua buku Babad Jawa yang ditulis abad ke-18 menyebutkan cerita nasib buruk, tentang Borobudur. Menurut Babad Tanah Jawi, menjelaskan nasib buruk bagi Mas Dana, seorang pemberontak kepada Pakubuwono I, raja Kesultanan Mataram pada 1709. Disebutkan bahwa bukit 'Redi Borobudur' dikepung dan para pemberontak ditangkap dan kemudian dihukum mati. Dalam Babad Mataram, kesialan menimpa Pangeran Monconagoro, yaitu putra mahkota Kesultanan Yogyakarta yang telah mengunjungi bangunan ini pada tahun 1757. Meskipun dilarang, Pangeran tetap datang dan mengunjungi satria yang terpenjara di dalam kurungan (arca Buddha yang terdapat di dalam stupa berterawang). Sekembalinya ke keraton Pangeran jatuh sakit dan meninggal dunia sehari kemudian.
Penemuan Borobudur
Setelah Perang Inggris–Belanda, Jawa di bawah pemerintahan Inggris pada kurun 1811 hingga 1816. Thomas Stamford Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal, dan ia memiliki minat istimewa terhadap sejarah" Jawa. Ia mengumpulkan artefak-artefak antik kesenian Jawa kuno dan membuat catatan mengenai sejarah dan kebudayaan Jawa yang dikumpulkannya dari perjumpaannya dengan rakyat setempat dalam perjalanannya keliling Jawa.
Pada kunjungan inspeksinya di Semarang tahun 1814, ia dikabari mengenai adanya sebuah monumen besar jauh di dalam hutan dekat desa Bumisegoro. Karena berhalangan dan tugasnya, ia tidak dapat pergi sendiri untuk mencari bangunan itu dan mengutus H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki keberadaan bangunan besar ini.
Dalam dua bulan, Cornelius beserta 200 bawahannya menebang pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di bukit Borobudur dan membersihkan lapisan tanah yang mengubur candi ini. Karena ancaman longsor, ia tidak dapat menggali dan membersihkan semua lorong. Ia melaporkan penemuannya kepada Raffles termasuk menyerahkan berbagai gambar sketsa candi Borobudur, Raffles dianggap berjasa atas penemuan kembali monumen yang pernah hilang.
Hartmann seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Kedu meneruskan kerja Cornelius dan pada 1835 akhirnya seluruh bagian bangunan telah tergali dan terlihat. Minatnya terhadap Borobudur lebih bersifat pribadi daripada tugas kerjanya. Hartmann tidak menulis laporan atas kegiatannya; secara khusus, beredar kabar bahwa ia telah menemukan arca buddha besar di stupa utama. Pada 1842, Hartmann menyelidiki stupa utama meskipun apa yang ia temukan tetap menjadi misteri karena bagian dalam stupa kosong. Pemerintah Hindia Belanda menugaskan F.C. Wilsen, seorang insinyur pejabat Belanda bidang teknik, ia mempelajari monumen ini dan menggambar ratusan sketsa relief. J.F.G. Brumund juga ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih terperinci atas monumen ini, yang dirampungkannya pada 1859. Pemerintah berencana menerbitkan artikel berdasarkan penelitian Brumund yang dilengkapi sketsa-sketsa karya Wilsen, tetapi Brumund menolak untuk bekerja sama.
Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C. Leemans, yang mengkompilasi monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Pada 1873, monograf pertama dan penelitian lebih detil atas Borobudur diterbitkan, dilanjutkan edisi terjemahannya dalam bahasa Perancis setahun kemudian. Foto pertama monumen ini diambil pada 1873 oleh ahli engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen.
Penghargaan atas situs ini tumbuh perlahan. Untuk waktu yang cukup lama Borobudur telah menjadi sumber cenderamata dan pendapatan bagi pencuri, penjarah candi, dan kolektor "pemburu artefak". Kepala arca Buddha adalah bagian yang paling banyak dicuri. Karena mencuri seluruh arca buddha terlalu berat dan besar, arca sengaja dijungkirkan dan dijatuhkan oleh pencuri agar kepalanya terpenggal. Karena itulah kini di Borobudur banyak ditemukan arca Buddha tanpa kepala. Kepala Buddha Borobudur telah lama menjadi incaran kolektor benda antik dan museum-museum di seluruh dunia.
Pada tahun 1882, kepala inspektur artefak budaya menyarankan agar Borobudur dibongkar seluruhnya dan reliefnya dipindahkan ke museum akibat kondisi yang tidak stabil, ketidakpastian dan pencurian yang marak di monumen. Akibatnya, pemerintah menunjuk Groenveldt, seorang arkeolog, untuk menggelar penyelidikan menyeluruh atas situs dan memperhitungkan kondisi aktual kompleks ini; laporannya menyatakan bahwa kekhawatiran ini berlebihan dan menyarankan agar bangunan ini dibiarkan utuh dan tidak dibongkar untuk dipindahkan. Bagian candi dicuri sebagai benda cinderamata, arca dan ukirannya diburu kolektor benda antik. Tindakan penjarahan situs bersejarah ini bahkan salah satunya direstui Pemerintah Kolonial. Pada tahun 1896, Raja Thailand, Chulalongkorn ketika mengunjungi Jawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur.
Candi Borobudur tertimbun lapisan tanah dan abu vulkanik. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. |
Dalam tahun 1882 muncul usulan untuk membongkar seluruh bangunan candi dan memindahkan reliefnya ke museum mengingat keadaan candi sudah terlalu rusak dan mengkhawatirkan. Usulan ini tidak mendapat sambutan langsung tetapi menimbulkan pemikiran tentang upaya menyelamatkan candi dari bahaya runtuh atau musnah.
Penemuan lain yang sangat penting pada tahun 1885, ketika J.W. Ijzerman mengadakan penyelidikan dan melakukan penggalian terkait dengan keberadaan candi. Dalam penyelidikan tersebut IJzerman menemukan relief di belakang batur kaki candi yang terdapat di ke-empat sisi candi yang sering disebut dengan Hidden Foot. Batur kaki candi ini dibongkar sebagian demi sebagian untuk keperluan pemotretan kemudian ditutup kembali. Sebagian relief di belakang batur kaki candi ini tidak ditutup atau ditampakkan sebagian di sudut tenggara sepanjang dua panil menghadap ke selatan.
Ketika sedang sibuk memikirkan cara penyelamatan candi, terjadi peristiwa yang tragis, ketika Raja Siam berkunjung ke candi, oleh Residen Kedu, Raja Siam diberi hadiah berupa batu-batu Borobudur sekitar 8 gerobag. Di samping itu diberi batu relief sebanyak 30 buah, 5 buah patung Buddha, 2 patung singa, 1 pancuran makara, sejumlah kepala Kala dari pipi tangga dan gapura, dan sebuah patung raksasa (dwarapala) yang sangat istimewa dari bukit Dagi sebelah barat laut candi.
Dalam tahun 1900 terbentuklah panitia yang bertugas khusus untuk melakukan perencanaan penyelamatan candi Borobudur. Setelah dua tahun bekerja, di dapat kesimpulan perlu dilakukan penyelamatan Candi Borobudur. Pada tahun 1905, Pemerintah Negeri Belanda menyetujui dilakukan pemugaran candi Borobudur, yang dipimpin oleh T. Van Erp. Pemugaran dilaksanakan pada tahun 1907 – 1911.
![]() |
Legenda Gunadharma cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. |
Menurut legenda arsitek perancang chandi Borobudur bernama Gunadharma, sedikit yang diketahui, namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda Jawa, bukan berdasarkan prasasti bersejarah.
Legenda Gunadharma dengan cerita rakyat
mengenai perbukitan Menoreh yang bentuknya menyerupai tubuh orang berbaring. Dongeng
lokal ini menceritakan bahwa tubuh Gunadharma berubah menjadi jajaran
perbukitan Menoreh.
Sumber : Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.
arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya
Selayang Pandang Candi Borobudur
Sekilas Candi Borobudur
Borobudur atau disebut dengan nama Barabudur, adalah candi suci umat Buddha. Menyebutkan nama candi Borobudur, berasal dari dua kata yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat pemujaan bagi umat Buddha atau kuil, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Maka makna kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena pergeseran bunyi menjadi Borobudur, yang artinya candi atau biara di atas bukit.
Borobudur adalah candi Buddha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras berbentuk lingkaran, dan serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa kejayaan pemerintahan Dinasti Sailendra. Bangunan yang megah ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang menggabungkan budaya asli Indonesia yaitu pemujaan leluhur dan konsep agama Buddha untuk mencapai Nirvana.
Candi Borobudur merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan tertinggi sesuai dengan ajaran Buddha.
Para peziarah, masuk melalui sisi timur mulai ritual, berjalan searah jarum jam, naik ke undakan melalui tiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan 1.460 panel relief yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut sejarah, Chandi Borobudur ditinggalkan pada sekitar abad ke-14, dan ditemukan kembali pertama kali oleh Sir Thomas Stamfort Rafles, yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Inggris atas Jawa.
Sejarah menyebutkan keberadaan awal mula pembangunan Chandi Borobudur sebagai bangunan suci umat Budha, Borobudur digunakan sebagai tempat peribadatan, pemujaan dan prosesi keagamaan dengan tujuan bagi pemeluk agama Budha untuk mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi adalah nirwana.
![]() |
Arca Buddha stupa teras Arupadhatu. Borobudur adalah candi Buddha Mahayana, berbentuk piramida berundak didirikan pada masa kejayaan Wangsa Syailendra sekitar tahun 800 Masehi. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Sejarah Borobudur
Melangkah kesejarah keberadaan Chandi Borobudur, bangunan yang pernah ditinggalkan dan tertimbun debu vulkanik mulai kurun waktu sekitar tahun 929-1006 Masehi, pada masa pemerintahan Rakai Sumba, hal ini dikarenakan beberapa aktifitas erupsi dan bencana alam gempa dari beberapa gunung berapi. Borobudur diperkirakan telah tertimbun abu vulkanik sehingga dilupakan dan menyebabkan pusat pemerintahan kerajaan pada waktu itu berpindah ke Jawa Timur.
Sejarah menyebutkan kapan Candi Borobudur ditinggalkan dan tidak lagi digunakan oleh para penganut agama Buddha, tidak dapat diketahui secara pasti, namun penjelasan tentang hal ini lebih banyak dihubungkan dengan perpindahan kerajaan Mataram Kuna yang berkuasa pada saat itu ke Jawa Timur.
Soekmono menjelaskan pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi, rakyat Mataram Hindu mengalami berbagai kesulitan. Kekuasaan Sanjaya dan Syailendra di Jawa Tengah membangun bangunan suci keagamaan yang besar, dan megah, akan tetapi melemahkan tenaga dan penghasilan rakyat, karena mengutamakan kebesaran raja telah menekan kehidupan rakyat. Pindahnya pusat kerajaan Mataram Kuna dari Jawa Tengah ke Jawa Timur berakibat bangunan pemujaan seperti Candi Borobudur tidak digunakan lagi karena ditinggalkan penganutnya. Keberadaan Candi Borobudur menghilang tidak tercatat dalam sejarah selama hampir 800 tahun sampai akhirnya ditemukan kembali.
Borobudur terlantar dan ditinggalkan selama kurang lebih 800 tahun serta terkubur di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik, sehingga pada saat itu bangunan candi Borobudur didalam bukit. Alasan sesungguhnya penyebab ditinggalkan hingga kini masih belum diketahui secara pasti sejak kapan bangunan suci ini tidak lagi menjadi pusat keagamaan pemeluk agama Buddha. Menurut narasi sejarah Jawa kuno, pada kurun waktu antara 928 sampai 1006, Raja Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan Medang ke kawasan Jawa Timur setelah beberapa letusan gunung berapi, meskipun demikian beberapa sumber menduga bahwa sangat mungkin Borobudur mulai ditinggalkan pada periode ini.
Bangunan suci Borobudur mulai disebutkan sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam bukunya Nagarakretagama, ditulis pada masa kerajaan Majapahit, yang menyebutkan adanya "Wihara di Budur". Selain itu Soekmono (1976) juga mengatakan bahwa candi ini mulai benar-benar ditinggalkan sejak penduduk sekitar beralih keyakinan kepada Islam pada abad ke-15. Candi Borobudur, melalui dongeng rakyat sebagai bukti kejayaan masa lampau menjadi kisah yang bersifat tahayul, berhubungan dengan kemalangan dan penderitaan.
Dua buku Babad Jawa yang ditulis abad ke-18 menyebutkan nasib buruk, tentang bangunan Borobudur. Menurut Babad Tanah Jawi, menjelaskan nasib buruk bagi Mas Dana, seorang pemberontak kepada Pakubuwono I, raja Kesultanan Mataram pada 1709. Disebutkan bahwa bukit "Redi Borobudur" dikepung dan para pemberontak ditangkap dan dihukum mati. Dalam Babad Mataram, kesialan menimpa Pangeran Monconagoro, putra mahkota Kesultanan Yogyakarta yang mengunjungi candi ini pada 1757. Meskipun dilarang, Pangeran datang dan mengunjungi satria yang terpenjara di dalam kurungan (arca buddha yang terdapat di dalam stupa berterawang). Sekembalinya ke keraton Pangeran jatuh sakit dan meninggal dunia sehari kemudian.
Pada kurun 1811 hingga 1816, Thomas Stamford Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal, dan memiliki minat tentang sejarah Jawa dan benda-benda antik kesenian Jawa kuno, serta membuat catatan mengenai sejarah kebudayaan Jawa. Dalam kunjungan inspeksinya di Semarang tahun 1814, diberitahukan tentang bangunan besar di dekat desa Bumisegoro. Kemudian karena berhalangan, memerintahkan H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki keberadaan bangunan ini.
Dalam dua bulan, Cornelius dan 200 orang melakukan pembersihan bangunan Borobudur dari semak belukar dan lapisan tanah. Karena ancaman longsor, pekerjaan tersebut tidak dapat dilanjutkan, kemudian apa yang dilakukan dalam pekerjaan itu dilaporkan kepada Raffles termasuk menyerahkan berbagai gambar sketsa candi Borobudur. Raffles dianggap berjasa atas penemuan kembali bangunan yang pernah hilang.
Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Kedu meneruskan kerja Cornelius pada 1835 akhirnya seluruh bagian bangunan telah terlihat. Minatnya terhadap Borobudur lebih bersifat pribadi. Hartmann tidak menulis laporan atas kegiatannya, sehingga beredar kabar bahwa menemukan arca buddha di stupa utama. Pada 1842, Hartmann menyelidiki stupa utama meskipun apa yang ditemukan tetap menjadi misteri karena bagian dalam stupa kosong.
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Menjelajahi dan mendapatkan bacaan yang lebih mudah dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur- wisata dengan Pamong Carita.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.







Comments
Post a Comment